Potensi Bahari Membentuk Kota Pelabuhan -

Tim Pendidikan dan Kebudayaan. 1995. Studi Pertumbuhan dan Pemudaran Kota Pelabuhan: Kasus Gilimanuk - Jepara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan


Negara kita merupakan negara kepulauan yang terletak pada posisi silang antara dua benua dan dua samudera. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 80.000-an kilometer. Ini berarti potensi accessibility atau kemudahan mencapai tempat lain dengan mempergunakan sarana transportasi air sangat besar (Haggett. Peter. 1972: 304). Pada potensi tersebut muncul pemukiman-pemukiman penduduk pantai yang dalam perkembangannya ada yang menjadi kota pelabuhan. Dewasa ini di seluruh  Indonesia, baik pada  perairan  sungai, danau, maupun  laut,  tercatat  kurang   lebih  516  pelabuhan.  dalam arti tempat bersandar perahu  atau  kapal (Lawalata, Hr. AC, 1981: 44). Di antara pelabuhan tersebut, 104 buah mendapat status pelabuhan laut.

Pelabuhan merupakan tempat dapat berlabuh dengan aman, Tempat ini memiliki fasilitas yang dapat melayani kegiatan bongkar-muat kapal baik penumpang maupun barang. Lokasi suatu pelabuhan yang baik antara lain terlindung, terletak pada jalur perdagangan dan kemudahan pencapaian pelabuhan dari daerah belakang yang merupakan daerah produksi maupun sebagai daerah konsumen barang (Freeman, Otis W. 1949:269-70). Melalui fungsi pelabuhan sebagai penghubung, kota pelabuhan merupakan ajang interaksi antar budaya.

-1-


Kota pelabuhan khususnya, lingkungan budaya umumnya senantiasa mengalami perubahan. Dalam kenyataannya, perubahan itu dapat menjelma sebagai pertumbuhan atau sebagai pcmudaran. Sejarah  menunjukkan  bahwa  sejumlah  kota pelabuhan di Indonesia muncul, tumbuh, dan berkembang (seperti Jakarta, Surabaya, Ujungpandang, Belawan, Palembang, Banjarmasin, Cilacap, Lhokseumawe, Semarang, Bitung, Ambon, Sorong, dan Merauke), tetapi sebagian lagi memudar bahkan lenyap sama sekali (seperti Demak, Banten, Ampenan, Buleleng, Jepara, Barus, dan Natal). Pertumbuhan dan pemudaran ini tentu disebabkan oleh kerja berbagai faktor, baik bersifat alamiah maupun budaya. Dalam kaitannya ini, pertumbuhan tentu lebih diinginkan daripada pemudaran karena di satu pihak masih banyak wilayah Indonesia yang belum lepas dari keterpencilan, dan di pihak lain potensi acessibility cukup besar. Potensi ini merupakan modal untuk memunculkan dan menumbuhkan kota-kota pelabuhan pada masa mendatang.

2



Sumber lain:

Freeman, Otis, W, Essentials of Geography, Mc. Graw Hill Book Company, Inc, New York, 1949.

Haggett, Peter, .RJH, Socio Economic Models in Geography, London, 1972

Lawalatta, Hr. AC, Pelabuhan Dan Niaga Pelayaran, Jakarta, 1981


OldestNewer

Post a Comment